Inalilahi Wainalilahi Rojiun

Hidup merupakan perjalanan menuju akhirat. Yang di dalamnya terdapat banyak musibah, cobaan, dan tanda tanya. Dan ketika berada di kondisi tersebut, hendaklah kita membaca kalimat yang indah, Inalilahi Wainalilahi Rojiun.

Karena sebesar apapun masalah yang kita miliki, tentu tidak akan bisa melebihi kebesaran dan kekuasaan Nya. Tatkala diterpa musibah, tak jarang dari kita yang mengumpat, memaki-maki Tuhan sebagai tanda tidak terima atas apa yang terjadi.

Padahal sejatinya, segala kondisi bisa berubah menjadi baik tatkala kamu dapat menyikapinya dengan baik.  Salah satunya adalah dengan mengucapkan ‘innalillahi wainna ilaihi raji’un’.

Kapan Membaca Innalillahi Wainna Ilaihi Rajiun

Kapan Membaca Innalillahi Wainna Ilaihi Rajiun

Selama ini, banyak yang mengira dan beranggapan, bahawa kalimat innalillahi wainna ilaihi raji’un hanya diucapkan ketika ada orang yang meninggal.

Apakah benar demikian? Bahkan, ketika ada seseorang yang mengucapkannya tatkala orang lain terkena musibah malah dianggap ‘tabu’. Wah. Kalau udah gini, sudah waktunya kita belajar lebih jauh ya. Biar nggak salah kaprah dan menyalahkan orang yang mengucapkan innalillah wainna ilaihi rajiun saat teman, keluarga, atau siapapun tengah tertimpa musibah.

Ketika ada yang menemui Tuhan, kembali kepada Nya, dan menutup lembaran hidupnya di dunia, kita memang sudah terbiasa mengucapkan kalimah indah tersebut. Saking seringnya kalimat ini diucapkan, kita bahkan tidak perlu menghafalnya. Ia kan? Jadi, saat kapankah kalimat ini kita ucapkan? Apakah mutlak saat ada yang meninggal saja?

Sebelum membahas kapan ia harus ucapkan, kita harus tahu dulu apa maknanya. Nah, Inalilahi Wainalilahi Rojiun berarti ‘Sesungguhnya, segala sesuatu itu milik Allah, dan akan kembali kepada Nya’. Meskipun singkat, namun makna yang ada di dalamnya sangat dalam. Bahwa, apapun yang terdapat di dunia ini, pasti akan kembali kepada Allah. Apapun ya.

Baik itu harta, tahta, termasuk saudara, teman, atau kerabat kita. Segala yang kita miliki di dunia ini hanyalah titipan dari Nya. Jadi, nggak ada yang abadi.

Apa yang hendak disombongkan? Kita bahkan tidak pernah bisa menuntut apapun. Atau memaksa segala yang saat ini kita miliki akan berada di sisi kita selamanya. Nggak bisa. Sebab kita adalah hamba yang dititipkan dan tidak memiliki kekuasaan apapun.

Sementara kehendak adalah milik Nya. Sebagaimana yang tertulis di dalam firman Nya. Quran surah al-Baqarah ayat 155-156.

وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لَا تَشْعُرُونَ (154) وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156)

Walȃ taqūlū liman yuqtalu fī sabīlillȃhi amwȃtun bal aḥyȃun walakin lȃ tasy’urūn. Walanabluwannakum bisyaimin al-khaufi wa al-jū’I wa naqshi mina al-amwȃli wa al-anfusi wa al-tsamarȃti wabasysyi al-shȃbirīna. Alladzīna idzȃ ashȃbathum mushībatun qȃlū innȃlillȃhi wainnȃilaihi rȃji’ūn.

“Dan sesungguhnya, kami akan memberikan cobaan kepadaku dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang sabar. Mereka adalah orang-orang yang jika ditimpa musibah mereka akan mengucapkan ‘Inalilahi Wainalilahi Rojiun’. “Sesungguhnya, segala sesuatu milik Allah, dan segalanya akan kembali kepada Nya.”

Dari firman Nya yang indah tersebut sudah jelas, bahwa Allah mengatakan ‘Dan jika ditimpa musibah, mereka akan mengucapkan ‘sesungguhnya segala sesuatu milik Allah dan segalanya akan kembali kepada Nya’.

Maka, kalimat pengagungan kepada Allah ini bukan hanya bisa kamu ucapkan ketika ada yang meninggal saja ya. Melainkan terhadap segala musibah yang datang. Baik yang besar maupun kecil.

Misal, ada saudara kita yang tertimpa kemalangan, terjadi gempa bumi di berbagai daerah, terjadi kecelakaan di jalan, dan lain sebagainya.

Begitu mengucapkan Inalilahi Wainalilahi Rojiun, jangan lupa melafadzkan doa ya. Sebagai wujud peduli dan empati kita kepada orang lain.

Mengenai ungkapan ini, Rasulullah juga pernah bersabda dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا قَالَتْ فَلَمَّا تُوُفِّىَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ كَمَا أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِى خَيْرًا مِنْهُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم

Mȃ min ‘abdin tushībuhu mushībatun fayaqūlu innȃlillȃhi wainnȃilaihi rȃji’un allȃhumma ajurnī fī mushībatī waakhlif lī khairan minhȃ illȃ ajrahullȃhu fī mushībatihi waakhlifu lahu khairan minhȃ qalat falammȃ tuwaffȃ abū salamah qȃlat kamȃ amaranī rasūlullȃhi shallallȃhu ‘alaihi wasallam faakhlafa allȃhu lī khairan minhu rasūlullȃhi shallallȃhu ‘alaihi wasallam.

‘tidaklah ada, satu orangppun (muslim) yang terkena musibah, kemudian dia berdoa ‘Inalilahi Wainalilahi Rojiun (sesungguhnya, segala sesuatu adalah milik Allah, dan segalanya akan kembali kepada Nya)Ya Rabb, berikanlah aku pahala di dalam setiap musibahku ini. Dan berikanlah ganti yang lebih baik daripadanya. ‘Ummu Slamah berkata, ketika Abu Salamah meninggal, aku berdoa seperti doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah kepadaku. Kemudian Allah menggantinya yang lebih dari itu. Yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Baca juga:

Tulisan Arab Asmaul Husna Dan Artinya

Hikmah Membaca Inalilahi Wainalilahi Rojiun

Hikmah Membaca Inalilahi Wainalilahi Rojiun

Salah satu musibah yang paling dekat dengan kita adalah kematian. Di mana, tidak ada satu orangpun yang tahu kapan ia akan menghampiri. Bahkan, sang kekasih Allah saja, Rasulullah tidak tahu kapan beliau akan dipanggil.

Yang jelas, cepat atau lambat, kematian pasti akan datang kepada kita, keluarga, kerabat, saudara, atau teman kita. Bisa saja kita yang mendahului mereka, atau sebaliknya.

Allah berfirman di dalam al-Quran surah al-Anbiya ayat 35.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Kullu nafsin dzȃiqatul maut. Walanabluwannakum bisyarri wa al-khairi fitnatan wa ilainȃ turja’ūn.

‘Semua yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan yang sebenar-benarnya. Dan hanya kepada Kamilah kamu kembali.”

Dalam hal ini, Imam Abū al-Fira’ Ibnu Katsir, semoga Allah merahmati beliau. Di dalam tafsirnya, beliau mengartikan ayat ini dengan ‘Sesungguhnya, Allah sudah mengabarkan kepada semua makhluik Nya, bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan kematian.

Hal ini sebagaimana yang sudah dijelaskan pula di dalam Qs. Al-Rahman ayat 26 dan 27. Yang artinya, Semua yang terdapat di bumi akan binasa. Dan Wajah Tuhanmu akan kekal yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.

Maka, jelaslah bahwa hanya Allah saja yang abadi. Sementara kita akan mati. Bahkan, jin dan malaikat pun akan mati. Hanya Dia yang Maha Kekal, Sang Ahad, Sang Pemilik, Sang Pencipta bumi ini yang kekal. Sebab Allahlah yang awal dan yang akhir.

Baca juga:

Percakapan Bahasa Arab

Sementara ayat berikutnya, ‘Kami pasti akan memberikan ujian kepada kamu berupa keburukan dan kebaikan sebagai cobaan yang sebenar-benarnya’ diartikan sebagai, ‘Allah menguji kita dengan berbagai macam musibah di waktu-waktu yang Allah kehendaki.

Hal ini untuk melihat, siapakah hamba Nya yang bersyukur dan siapa saja yang mengkufuri Nya. Siapa yang bisa menghadapi segalanya dengan sabar, dan siapa hamba Nya yang berputus asa dari rahmat Nya.

Syaikh Sa’d juga menafsirkan ayat ini di dalam tafsirnya. Beliau berkata, ‘Tetapi, Allah mengadakan hamba Nya di dunia, memberikannya perintah, memberikannya larangan, menguji hamba Nya dengan kebaikan dan juga keburukan, atau dengan kaya atau miskin, kematian dengan kehidupan, hingga kemuliaan dengan kehinaan.

Yang segalanya merupakan fitnah, alias cobaan dari Allah untuk menguji hamba-hamba Nya dan melihat siapakah yang amalnya paling baik.

Di mana, segala kebaikan dan keburukan, segala musibah diberikan Allah adalah demi kenaikan hamba itu sendiri.

Adapun kebaikan tersebut bisa saja berbentuk penghapusan dosa yang telah lalu, mengajak hamba Nya agar lebih bersabar hingga mendapatkan pahala yang berlipat-lipat, atau bahkan bisa menjadikan hamba tersebut lebih dekat dengan Allah.

Hal ini sebagaimana yang dijelaskan di dalam hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

 عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

‘ajaban liamri al-mu’mini inna amrahu kullahu khairun wa laisa dzȃlika liaḥadin illȃ lilmu’mini in ashȃbathu sarrȃu syakara fakȃna khairan lahu wa in ashȃbathu dharrȃu shabara fakȃna khaira lahu.

Sesungguhnya, urusan seorang mukmin sangatlah menakjubkan. Sesungguhnya, segala urusannya adalah baik. Dan hal ini tidak akan dimiliki oleh orang selain mukmin. Apabila dia mendapatkan kenikmatan, maka ia akan bersyukur. Maka hal tersebut sangatlah baik untuknya. Sementara jika tertimpa musibah, hal tersebut juga baik baginya.

Baca juga:

Ya Muqollibal Qulub

Maka mulai sekarang, tatkala kita ditimpa musibah, baik itu dengan kematian orang-orang terkasih, atau kehilangan harta benda dan jabatan, hendaknya kita mulai menyadari, bahwa ini adalah kehendak Nya, dan sudah pasti ketetapan yang terbaik dari Nya.

Toh Allah juga sudah berfirman di dalam al-Quran, tepatnya di dalam surah al-Taghabun ayat 11. Yang artinya, Tidak ada satupun musibah yang menimpa kamu melainkan dengan seizin-Nya. Dan barang siapa yang beriman kepada Nya, maka Allah akan memberikan petunjuk kepada hati Nya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Ibnu Katsir menafsirkan surah al-Taghabun ini dengan mengatakan, ‘Barang siapa yang mendapatkan musibah, lantas ia mengetahui dan menyadari, bahwa segala yang terjadi merupakan takdir atau ketetapan dari Nya, lalu ia bersabar, mengharapkan pahala dari Allah, dan lapang dada, pasrah dalam menerima ketetapan tersebut, maka Allah pasti akan memberikan hidayah kepada hatinya.

Lalu mengganti dunia yang sudah hilang dengan yang lebih besar, yaitu hidayah di dalam hatinya, dan keyakinan bahwa Allah pasti akan memberikan yang terbaik.

Dan segala penafsiran Ibnu Katsir tadi sudah ada di dalam doa yang diajarkan Rasulullah tadi kepada Ummu Salamah tatkala ia kehilangan.

Bahkan, Allah langsung menunjukkan kebesaran Nya dengan memberikan ganti yang jauh lebih baik daripada yang telah hilang. Rasa kehilangannya tatkala Abu Salam meninggal telah Allah ganti dengan Rasulullah. MasyaAllah.

Kebaikan dan ganti yang didapatkan oleh Ummu Salamah menjadi berkah baginya atas setiap kepasrahannya menerima takdir dari Allah, serta keyakinannya terhadap kekuasaan Nya.

Baca juga:

Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad

Makna Inalilahi Wainalilahi Rojiun

undanganmagelang.com

Sebenarnya, dengan melihat satu kisah tadi saja kita bisa menyimpulkan banyak hal ya. Tapi nggak ada salahnya jika kita bahas lagi.

Jadi, tatkala kita mengucapkan Inalilahi Wainalilahi Rojiun, maka sejatinya kita sedang memasrahkan segalanya kepada Allah. Membiarkan Allah mengambil apa yang telah dititipkan Nya kepada kita.

Kita dituntut untuk bersabar atas apapun yang terjadi. Menghadapinya dengan kepala dingin serta keyakinan penuh, bahwa Allah menyayangi kita dan tengah memberikan ujiannya.

Karena bagaimanapun, nyaris semua orang akan ‘emosi’ ketika berada di situasi yang tidak menyenangkan. Ia kan? Akan marah ketika mendapatkan musibah.

Bahkan tak sedikit yang malah menyalahkan Tuhan atas segala masalah yang dihadapinya. Na’udzubillah. Hal ini memang manusiawi. Namun tetap saja, menghadapinya dengan bijak, sesuai dengan tuntunan Allah adalah yang terbaik.

Membiarkan Allah mengambil apa yang telah dititipkan Nya kepada kita.

Tulisan Inalilahi Wainalilahi Rojiun

Tulisan Inalilahi Wainalilahi Rojiun

Oke, setelah membahas banyak hal tentang salah satu firman Allah ini, kita akan lanjutkan ke pembahasan terakhir, yaitu tulisannya di dalam bahasa Arab dan juga tulisan latin yang sudah ditransliterasi.

Meskipun menjadi salah satu kalimat yang sering kita ucapkan dan kita dengar, tentu tetap tidak menjadi jaminan bahwa kita tahu tulisan arab dari kalimat ini. Ia kan? Bahkan, jika diperhatikan, masih banyak loh yang salah dalam mengucapkannya.

Padahal, ketika salah dalam pengucapan, sudah barang tentu akan mengubah maknanya. Itulah mengapa penting mengetahui tulisan arab dan tulisan latin yang sudah ditransliterasi. Hal ini untuk meminimalisir kekeliruan dalam pengucapan.

Dengan mengetahui tulisan arab Inalilahi Wainalilahi Rojiun ini tentu akan mempermudah kamu ketika akan mengucapkan bela sungkawa kepada orang-orang sekitar yang terkena musibah. Ia kan? Memang, bisa sih buka google, kemudian nyari tulisan ini.

Namun, jika bisa belajar terlebih dahulu, mengapa harus cari yang instan dan tidak mengandung ilmu sama sekali?

Ya itung-itung belajar lah ya. Jangan sampai nih kita bisanya hanya copy paste saja.Begitu informasi tentang tulisan iInalilahi Wainalilahi Rojiun ini hilang di google, atau google sedang down kita malah tidak tahu apa-apa. Kan sayang aja gitu.

Oke, berikut adalah tulisan Inalilahi Wainalilahi Rojiun dalam bahasa Arab dan tulisan latin yang sudah ditransliterasi.

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Innȃlillȃhi wainnȃilaihi rȃji’ūn. atau Inalilahi Wainalilahi Rojiun

Untuk cara membacanya mudah ya. Kamu tinggal memperhatikan tanda baca yang panjangnya saja. Di situ, ada dua tanda baca panjang. Ada alif mati dan waw mati. Jadi, tinggal panjangkan saja huruf sebelumnya. Gampang kan? Ya gampanglah, asal kamu mau belajar aja.

Baca juga:

Man Jadda Wa Jadda

Penutup

Bagian terakhir adalah penutup. Dari berbagai penjelasan di atas, Allah telah mengingatkan kita di dalam banyak firman Nya, dan Rasulullah di dalam banyak sabdanya. Bahwasanya, manusia adalah makhluk yang lemah.

Makhluk yang tidak mempunyai kuasa apapun, termasuk kuasa terhadap diri Nya. Yang ketika Allah berkata kun, maka terjadilah. Tak ada yang bisa menolaknya barang satu orang pun. Maka, dari segala sifat kelemahan tersebut, milikilah sifat ‘percaya’ bahwa janji Allah itu pasti.

Janji Allah, bahwa Ia pasti akan mengembalikan apa yang telah hilang dari kita dengan segala sesuatu yang lebih baik. Belajarlah dari kisah Ummu Salamah yang kehilangan Abu Salamah. Ia mengamalkan hadis Rasulullah, yakni dengan mengucapkan innalillahi wainna ilaihi rajiun tatkala kehilangan.

Kemudian berserah diri kepada Nya. Lantas apa yang Allah berikan? Allah memberikan ganti yang sungguh-sungguh jauh di luar dugaannya. Sekian. Semoga bermanfaat. Wallahua’lam.

6 Comments

Leave a Reply