Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad

Sebagai seorang Muslim. kita dianjurkan untuk senantiasa bershalawat kepada Baginda Rasul. Salah satu shalawat tersebut adalah dengan membaca Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad.

Shalawat satu ini merupakan shalawat yang paling umum kita temukan. Karena ketika shalatpun kita diwajibkan membacanya.

Sayangnya, perdebatan pembacaan shalawat ini masih terus diperdebatkan.

Perdebatan tersebut berasal pada kata ‘sayyidina’. Ada yang melarang keras-keras membaca shalawat menggunakan sayyidina.

Dan tampaknya, perdebatan ini memang tidak akan pernah ada habisnya. Meskipun demikian, tentu hal ini bukanlah alasan mengapa kita berselisih.

Karena bagaimanapun, terdapat banyak hal yang bisa menyatukan kita sebagai umat Muslim.

Seperti kita sama-sama menyadari, bahwa shalat itu wajib, membaca shalawat adalah perintah Rasul, berpuasa ramadhan itu wajib, dan lain sebagainya.

Maka, sangat tidak etis rasanya jika hanya karena satu ini kita berselisih. Na’udzubillah. Untuk itu, simak penjelasan berikut deh.

Pengertian Shalawat Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad

Pengertian Shalawat Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad

Di dalam kitab Kumpulan Shalawat Nabi Super Lengkap karya Ibnu Wtiniyah, dinyatakan, bahwa shalawat ialah ungkapan, sanjungan, hingga kekaguman seorang umat.

Bukan hanya itu saja, shalawat juga diartikan sebagai permohonan ‘hamba’ kepada kepada Allah dengan cara memuliakan Rasul Nya.

Sementara itu, Profesor Quraish Shihah di dalam bukunya yang berjudul Haji dan Umrah bersama M. Qurais Shiha menyatakan, bahwa membacakan shalawat dalam pengertian permohonan kepada Allah.

Agar Rasulullah mendapatkan limpahan rahmat dan kasih sayang Nya. Dan ini bisa menjadi kunci sebab terkabulkannya doa.

Sebab Rasulullah merupakan kekasih Allah, dan karena beliaulah kita semua bisa mendapatkan petunjuk.

Selain itu, shalawat juga menjadi bukti terima kasih kita kepada Nabi Muhammad, yang ketika mengucapkannya kita juga berharap bisa mendapatkan percikan kasih Allah.

Kita dianjurkan untuk senantiasa bershalawat kepada Rasulullah loh. Hal ini sebagaimana yang tertulis di dalam al-Quran.

Tepatnya di dalam Quran surah al-Ahzab ayat 56.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

Innallȃha wamalȃikatahu yushallūna ‘ala al-nabiyy, yȃayyuha alladzīna ȃmanū shallū ‘alaihi wasaalimū taslīmaan

Sesunngguhnya, Allah dengan para malaikat Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang beriman, bershalawatlah kamu untuk Rasulullah, dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

Di dalam Tafsir al-Wajiz, karya Syaikh Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili. Seorang pakar di bidang fiqh dan tafsir Negeri Suriah menyatakan.

Bahwa Allah sangat memuliakan Rasulullah Muhammad. Kemudian mengabarkan bagaimana tingginya kedudukan beliau di sisi Allah.

Ayat ini juga menunjukkan, bahwa Allah memuji Rasulullah kemudian menyanjungnya. Lalu diikuti oleh malaikat-malaikat Nya.

Lalu, Allah kemudian memerintahkan hal ini juga kepada hamba Nya yang beriman, yang membenarkan Allah dengan Rasululnya.

Serta melakukan amal sesuai dengan syariat yang ada, dengan bershalawat kepada Rasulullah dan salam kepada Rasulullah.

Maka, di antara banyaknya shalawat kepada Baginda Nabi Muhammad, shalawat Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad merupakan shalawat yang populer.

Dan terbilang singkat juga. Sehingga, lumayan banyak masyarakat yang menyanjung Rasulullah dengan shalawat ini di sela-sela aktivitasnya.  Terutama usai shalat.

Yang terpenting adalah, bershalawat bukanlah hanya sekedar dikeluarkan oleh lisan, melainkan juga harus berdasarkan hati yang tulus. Karena Allah mengetahuinya.

Banyaknya umat muslim yang membaca Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad bukanlah jaminan bahwa banyak pula yang memahaminya.

Mungkin, ada yang hanya sekedar ikut-ikut, ada yang karna suka saja, dan berbagai alasan lainnya. Ia kan?

Maka, daripada harus berlandaskan dengan alasan-alasan tersebut, akan sangat baik jika kita mempelajari maknanya.

Karena dengan belajar dan mengetahui pasti akan melahirkan sebuah alasan yang tepat mengapa kita harus bershalawat dengan Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad.

Makna shalawat Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad itu sendiri adalah Ya Rabb, semoga Rahmat Mu senantiasa tercurahkan kepada Baginda Muhammad.

Baca juga:

Inalilahi Wainalilahi Rojiun

Tulisan Arab Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad

Tulisan Arab Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad

Sebagai seorang muslim, setiap hari pasti selalu mengucapkan kalimat Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad. Minimal ketika dalam sholat.

Kalimat tersebut termasuk rukun ucapan ketika seorang muslim melakukan sholat, yakni di dalam bacaan duduk tasyahud awal dan akhir.

Jadi ketika seseorang sedang sholat tetapi tidak membaca sholawat kepada Nabi, maka sholatnya tidak akan sah.

Bagi kaum muslim, kalimat ini sangat luar biasa maknanya. Kaum muslim sangat meyakini akan makna yang luar biasa dalam kalimat tersebut.

Banyak sekali keutamaan dalam kalimat tersebut bagi seseorang muslim yang rajin membaca sholawat ke atas Nabi.

Apalagi banyak sekali dalil yang memerintahkan atau menganjurkan umat muslim agar senantiasa memperbanyak sholawat kepada Rasulollah SAW.

Nah berikut ini adalah kalimat Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad dalam tulisan arab:

الَّلهـُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِـناَ مُحَمَّـدٍ

Berikut tulisan Latin berserta artinya:

Latin: Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad.

Artinya: “Ya Allah semoga rahmat senantiasa tercurah kepada Baginda Besar Nabi Muhammad.”

Tambahan Kata “Sayyidina” Pada Sholawat

Tambahan Kata "Sayyidina" Pada Sholawat

Penambahan kata Sayyidina menjadi perdebatan di kalangan umat muslim dari dulu hingga saat ini.

Kata Sayyidina sendiri bisa diartikan sebagai baginda atau tuan, ketika seseorang hendak menuturkan nama mulia Baginda Rasulullah di luar sholawat.

Sebagian yang enggan menambahkan sayyidina dan sebagian lebih suka menambahkan kata sayyidina.

Alasan mereka yang enggan menambahkan yaitu karena Rasulullah tidak menyebutkan kata itu ketika mengajarkan kepada para sahabat, maka dari itu mereka ingin mengamalkan apa yang Rasulullah ajarkan apa adanya.

Ketika itu Rasulullah bersabda:

قُولُوا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ

Artinya: “Ucapkanlah Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad.”

(Muslim bin Al-Hajjaj An-Naisaburi, Shahîh Muslim, [Indonesia: Maktabah Dahlan, tt.], juz IV, hal. 305)

Sedangkan sebagian yang menambahkan kata sayyidina, mereka menafsirkan banyak dasar dan alasan yang mendukungnya.

Beberapa dalil di antara yang menjadi rujukan mereka yaitu:

Rasulullah SAW berdabda:

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: “Saya adalah sayyid (tuan)-nya anak Adam di hari kiamat.”

(Muslim bin Al-Hajjaj An-Naisaburi, Shahîh Muslim, [Indonesia: Maktabah Dahlan, tt.], juz IV, hal. 1782)

Imam Nawawi menuturkan pendapatnya dalam kitab Al Minhaj

Ada penambahan ucapan wa la fakhra artinya tidak sombong untuk menjelaskan bahwa penjelasan Rasul tentang ke “Sayyid” annya bukan merupakan kesombongan.

Pernyataan Baginda Nabi tentang ke “Sayyid” annya yang disampaikan kepada para sahabat adalah rasa syukur kepada Allah atas pemberian nikmat kedudukan yang agung ini.

(Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Minhâj, [Kairo: Darul Ghad Al-Jadid, 2008], jil. VIII, Juz XV, hal. 36)

Penuturan Rasulullah itu menjadi perlu kita sebagai umatnya agar memahami pangkat dan kedudukan Rasulullah. Kemudian kita memperlakukan Rasulullah dengan mengagungkannya sesuai kedudukan yang tinggi itu.

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Fath ayat 8-9:

  إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Rasulullah) sebagai saksi, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Agar kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengagungkan dan memuliakannya.”

Dalil Bershalawat kepada Nabi Muhammad (Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad)

Dalil Bershalawat kepada Nabi Muhammad (Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad)

Salah satu Hak Rasulullah yang sudah ditetapkan oleh Allah atas umat beliau adalah dengan mengucapkan shalawat dan juga salam kepada Rasulullah.

Dalam hal ini, Allah dan para malaikat juga sudah sudah bershalawat. Sebagaimana yang sudah disebutkan pada penjelasan di atas.

Dengan satu dalil ini saja sudah sangat jelas, bahwa kita diperintahkan oleh Allah untuk senantiasa bershalawat. Dan tidak membatasinya dengan satu shalawat saja.

Misalnya dengan mengucapkan hanya dengan Shallu ‘alaih (semoga  shalawat dilimpahkan kepadanya, atau dengan ‘alaihi al-salam (semoga Allah melimpahkan keselamatan untunya.

Hal ini dikarenakan Allah meminta dan memerintahkan kita, orang-orang yang beriman untuk melafadzkan keduanya.

Jadi, sudah sangat jelas sebenarnya, bahwa syariat memerintahkan kita untuk bershalawat di waktu-waktu yang khusus atau penting.

Dalam hal ini Ibnu al-Qayyim menyatakan, bahwa terdapat 41 tempat atau waktu yang dianjurkan untuk bershalawat, atau bahkan wajib.

Dan Ibnu al-Qayyim menyebutkan yang pertama kali adalah tatkala shalat. Tepatnya ketika kita tengah tasyahud akhir.

Di waktu tersebut, jumhur ulama sepakat, bahwasanya disyariatkan bershalawat. Hanya saja, masih terdapat perbedaan. Yakni terkait dengan hukumnya.

Ibnu al-Qayyim kemudian menambahkannya dengan akhir qunut, lalu ketika khutbah, setelah menjawab setiap kalimat pada adzan, tatkala keluar dan masuk masjid.

Rasulullah sendiri mengajarkan kepada para umatnya terkait bagaimana cara bershalawat sebenarnya.

Beliau menganjurkan agar kita memperbanyak shalawat kepada beliau ketika Hari Jumat.  Sebagaimana sabdanya:

 أَكْثِرُوا الصَّلاَةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، فَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

“Perbanyaklah shalawat kepadaku ketika Hari Jumat dan ketika Malam Jumat. Barang siapa yang melaksanaknnya sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sebanyak 10 kali.

Baca juga:

Tulisan Arab Asmaul Husna dan Artinya

Manfaat bershalawat Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad

Manfaat bershalawat Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad

Ketika bershalawat, apa saja yang akan kita dapatkan? Tentu tidak sedikit yang bertanya demikian. Ia kan?

Ada banyak sekali manfaat shalawat yang akan kita terima. Bahkan, Ibnu al-Qayyim menyebutkan paling tidak terdapat 40 manfaat bershalawat.

Maka, yuk simak manfaat bershalawat kepada Rasulullah berikut.

Bentuk Ketaatan

Dengan bershalawat, maka kamu akan dicatat sebagai seorang hamba yang mengindahkan perintah Nya.

Perintah yang mana? Perintah yang terdapat di dalam Quran surah al-Ahdzab ayat 56 tadi.

Bahwasanya Allah menyeru kepada orang yang beriman agar bershalawat dan mengucapkan salam kepada Rasululah.

Maka, jika kita merasa termasuk bagian dari orang-orang yang beriman, kita meski bershalawat, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah.

Baca juga:

Man Jadda Wa Jadda

Mendapatkan Kebajikan dari Allah, Sebab dihapuskannya Dosa

Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadis:

مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً صلَّى اللَّهُ عليهِ عشرَ صلَواتٍ ، وحُطَّت عنهُ عشرُ خطيئاتٍ ،

ورُفِعَت لَهُ عشرُ درجاتٍ

Man shallȃ ‘alaayya shalȃtan wȃḥidatan shallȃ Allȃh ‘alaihi ‘asya shalawȃtin, wa ḥuththat ‘anhu ‘asyru khathīȃtin wa rufi’at lahu ‘asyru darajȃtin.

Hadis ini menjelaskan, bahwasanya siapapun umat Rasulullah yang membacakan shalawat kepadanya sekali saja, maka akan dituliskan 10 kebaikan kepadanya oleh Allah. Kemudian dihapuskan 10 keburukanm dan akan ditinggikan kepadanya sebanyak 10 derajat, lalu mengembalikan pula kepadanya 10 derajat. (HR. Ahmad)

Maka, jika kita ingin mendapatkan kebaikan-kebaikan tersebut dari Allah, hendaklah kita bershalawat.

Lagi pula, apa susahnya bershalawat. Ia kan? Yang mana, kita bahkan bisa tetap bershalawat meskipun dalam keadaan sibuk.

Baca juga:

Percakapan Bahasa Arab

Allah Akan Bershalawat kepada Kita 10 Kali

Allah Akan Bershalawat  Kita 10 Kali

Apakah mungkn Allah bershalawat kepada kita? Jawabannya sangat mungkin. Karena hal ini disebutkan di dalam hadis Rasulullah.

Hadis ini diriwayatkan dari ‘Abdillah bin ‘Amr dan bin al-‘Ashi.

Yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Tirmidzi, dan juga Imam al-Nasa’i. Bunyi hadisnya adalah,

عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا اَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا رواه مسلم.

‘An ‘Abdillȃh bin ‘Amr dan Ibn’Ashi radhiyallȃhu ‘anhuma, Annahu sami’a Rasūlullȃh shallallȃhu ‘alaihi wasallam, yaqūlu man shallȃ ‘alayyȃ shalȃtan shallȃ Allȃhu ‘alaihi bihȃ ‘asyran. (Ruwȃhu Muslim)

Dari ‘Abdillah bin A’amr dan Ibn ‘Ashi, bahwasanya mereka pernah mendengar Rasulullah bersabda, barang siapa yang mengucapkan shalawat atau yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sebanyak 10 kali.

Tentu, keutamaan satu ini adalah keutamaan yang sangat besar. Kapan lagi kita bisa mendapatkan keutamaan besar ini?

Bayangkan, jika dalam sehari kita mampu bershalawat 10 kali. Sudah berapa banyak Allah bershalawat kepada kita. masyaAllah.

Menjadi Sebab Terkabulnya Doa

Setiap manusia tentu berharap, bahwa semua doa-doa yang dilangitkannya akan dikabulkan oleh Allah. Ia kan?

Maka, tidak salahnya untuk memulai berdoa dengan membaca shalat terlebih dahulu.

Tapi janga lupa, sebelum bershalawat kepada Rasulllah, kamu meski bershalawat kepada Allah juga. Maka dengan demikian, shalawat ini bisa menjadi sebab doa-doa kamu terkabul.

Hal ini sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis Rasulullah, dalam riwayat Ahmad, Tirmidzi, dan Abu Dawud.

سمعَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ رجلًا يَدعو في صلاتِهِ لم يُمجِّدِ اللَّهَ تعالى ولم يُصلِّ علَى النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ فقالَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ عجِلَ هذا ثمَّ دعاهُ فقالَ لَهُ أو لغيرِهِ إذا صلَّى أحدُكُم فليَبدَأ بتَمجيدِ ربِّهِ جلَّ وعزَّ والثَّناءِ علَيهِ ثمَّ يصلِّي علَى النَّبيِّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ ثمَّ يَدعو بَعدُ بما شاءَ

Sami’a Rasūlullȃh shallallȃhu ‘alaihi wasallam rajulan yad’ū fī shalȃtihi lam yumajjidillȃha ta’ȃlȃ wa lam yushalli ‘ala al-nabiyyi shalla Allȃhu ‘alaihi wasaalam, faqȃla rasūlullȃhu ‘alaihi wasallam, ‘ajila hȃdzȃ da’ȃhu faqȃla lahu au lighairihi idzȃ shallȃ aḥadukum falyabdau bitamjīdi rabbihi jalla wa ‘azza wa al-tsnȃi ‘alaihi tsumma yushallī ‘ala al-nabiyyi shall Allȃhu ‘alaihi wasallam tsumma yad’ū ba’du bisa syȃa

Ketika salah satu di antara kamu ada yang bershalawat, maka hendaklah ia memulainya dengan mengagungkan Allah dulu, kemudian memujinya. Lalu, barulah ia membacakan shalawat kepada Rasulullah, lalu berdoalah sesuai dengan yang ia kehendaki.

Mendapatkan Syafaat dari Nabi Muhammad

Manfaat atau keutamaan bershalawat yang berikutnya adalah akan mendapatkan syafaat baginda Nabi Muhammad insyaAllah.

Tiap-tiap kita pasti menginginkan syafaat beliau di yaumil akhir nanti. Maka, agar mendapatkan syafaat tersebut, hendaklah kita membiasakan diri dengan bershalawat.

Sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis Rasullah. Hadis ini

وعن عبدِ الله بن عمرو بن العاص رضي الله تعالى عنهما أنّه سَمِعَ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم يقول: «إذا سَمِعْتُمُ النِدَاءَ فقولوا مثلَ ما يقولُ، ثمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فإنّه مَنْ صَلّى عَلَيَّ صلاةً صلى اللهُ عليه بها عَشْرَا، ثمّ سلوا اللهَ ليَ الوَسِيْلَةَ، فإنّها مَنْزِلَةٌ في الجنّة لا تنبغي إلاّ لِعَبْدٍ مِنْ عباد الله، وأرجو أن أكونَ أنا هو، فَمَنْ سألَ لِيَ الوَسِيْلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَفَاعَةَ»  (مسلم)،

Wa ‘an ‘Abdillȃh bin ‘Amr wa bin al-‘Ash radhiyallȃhu ta’ȃlȃ ‘anhuma, annahu sami’a rasūlullȃh shallallȃhu ‘alaihi wasallam yaqūlu, idzȃ sami’tumu al-nidȃa faqūlū mitsla mȃ yaqūlu, tsumma shallū ‘alayya, fainnahu man shallȃ ‘alayya shalȃtan shallallȃhu ‘alaihi bihȃ ‘asyrȃ, tsumma salūllȃha liya al-wasīlata, fainnahu manzilatan fī al-jannatī lȃ tanbaghī illȃ li’abdin min ‘ibȃd Allȃg, wa arjū an akūna anȃ huwa,m fa man saala liya al-wasīlatan ḥallat lahu.

Maknanya, hadis ini dari ‘Abdullah bin umar, bahwasanya ia pernah mendengar sabda Rasulullah, yang isinya, tatkala kalian sedang mendengarkan adzan, maka hendalkah ucapkan sebagaimana yang diucapkan oleh muadzin tersebut. Lalu bershalawatlah kepada Rasulullah. Sesungguhnya, barang siapa yang bershalawat kepada beliau sekali, maka Allah juga akn bershalawat kepadanya 10 kali. Kemudian, mintalah kepada Nya wasilah untuk Rasulullah, karena wasilah tadi merupakan tempat di surga yang tidak akan dikaruniakan, melainkan kepada salah satu hambanya. Dan aku berharap, bahwa aku adalah hamba terssbut. Dan barang siapa yang memohonkan wasilah untukku, ia akan mendapatkan syafaat. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Di akhirat nanti, kita membutuhkan syafaat dari Rasulullah. Maka, salah satu cara untuk mendapatkannya adalah dengan senantiasa bershalawat.

Selain beberapa keutamaan atau manfaat tersebut, masih banyak manfaat lain yang akan kamu peroleh jika bershalawat.

Seperti akan dikumpulkan bersama Rasulullah di surga nanti. Hal ini disebutkan di dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi.

Kemudian diangkat derajatnya oleh Allah yang diriwayatkan oleh al-Nasai. Dan berbagai keutamaan lainnya.

Orang yang Pelit

Sebagai penutup, saya rasa saya perlu membahas sedikit tentang orang yang paling pelit di dunia ini. Lantas, apa kaitannya dengan shalawat?

Jadi gini, menurut Rasulullah, orang yang pelit bukanlah orang yang selama ini mengengkang hartanya sebagaimana definisi pelit versi banyak orang.

Selain itu, orang yang pelit juga bukanlah orang yang sangat susah ketika dimintai pertolongan, atau bantuan. Baik oleh kerabatnya sendiri maupun orang lain.

Lalu, siapakah orang pelit yang sesungguhnya? Siapakah orang pelit yang digambarkan oleh Rasulullah?

Maka jawabannya sederhana, yaitu mereka yang tidak bershalawat ketika nama beliau disebutkkan. Hal ini disebutkan di dalam hadis beliau yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi.

البَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيّ

Al-bakīlu alladzī man dzakarttu ‘indahu falam yushalli ‘alayya.

Yang intinya ya siapa yang tidak bershalawat kepada Rasulullah ketika namanya disebut, maka ialah orang yang bakhil.

Tentu, tidak ada satupun orang yang ingin dianggap bakhil atau pelit oleh Rasulullah kan? Maka, tatkala ada yang menyebutkan namanya. Di manapun.

Baik ketika berbincang-bincang dengan teman, sedang di perkuliahan, mendengarkan ceramah, dan lain sebagainya, cobalah untuk bershalawat.

Kita sudah harus membiasakan kebiasaan baik ini sejak sekarang. Kalau tidak sekarang, maka kapan lagi? Jika bukan kita yang memulainya, maka siapa lagi?

Maka, mari menghidupi hari-hari kita dengan bershalawat kepadanya. Dan semoga segala kebaikan-kebaikan di dalamnya kita peroleh. Baik itu ampunan, syafaat, hingga ditinggikan derajat.

Demikian. Wallahua’lam. Semoga bermanfaat.

One comment

Leave a Reply